WELCOME NIL SUDAN

SELAMAT DATANG DI PUSAT INFORMASI SEPUTAR BERITA SUDAN

6 Jul 2016

Mahasiswa Aceh Khatib Idul Fitri di KBRI Sudan, Lebarannya Ala Indonesia



SERAMBINEWS.COM, KHARTOUM - Ratusan WNI dan mahasiswa Indonesia di Sudan, melaksanakan shalat dan merayakan Idul Fitri ala negeri sendiri di wisma Kedutaan Besar RI di Khartoum, Rabu (6/7/2016).
Hampir setiap tahun KBRI di Khartoum menggelar pelaksanaan Shalat Idul Fitri bersama sekaligus menyelenggarakan acara Open House bersama WNI dan mahasiswa Indonesia.
Seperti diberitakan mirajnews.com , Shalat Id kali ini diadakan di halaman Wisma Duta KBRI Khartoum yang dimulai sejak pukul 06.30 EAT waktu setempat, mengikuti hari raya negara-negara Arab lainnya di hari yang sama, demikian Koresponden MINA di Khartoum melaporkan.
Bertindak sebagai imam adalah Ribut Nur Huda, S.Hum, M.Ed dan Khatib Safrizal Sulaiman, S.Pd.I, MA, keduanya merupakan mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang melanjutkan Program Pascasarjana Doktoral di salah satu universitas terkemuka diSudan.
Dalam khutbahnya, Safrizal mahasiswa yang berasal dari Aceh ini menyampaikan bahwa Al-Quran harus dijadikan sebagai landasan dan pondasi dalam kehidupan, seperti halnya pada bulan Ramadhan.
Selain itu, Dubes RI untuk Sudan dan Eritrea Drs. Burhanuddin Badruzzaman, memberikan sambutan pada acara tersebut.
Burhanuddin menegaskan bahwa KBRI mengutuk keras pelaku teror bom terbaru di kota suci Madinah, Arab Saudi dan di Solo, Indonesia yang mengatasnamakan Islam.
“Karena ciri dari Islam bukan mengajarkan kepada kekerasan tetapi mengajarkan kepada perdamaian,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Konsuler Asrarudin Salam mengumumkan tentang himbauan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan, sebab sebelumnya seorang WNI menderita sakit TBC.
Acara selanjutnya adalah ramah tamah sambil menikmati hidangan menu khas lebaran di Indonesia bertempat di Wisma Duta Besar RI.
Beberapa tahun belakangan, jumlah WNI dan mahasiswa Indonesia cukup meningkat di Sudan, terutama mahasiswa yang ingin melanjutkan studinya ke beberapa perguruan tinggi di negara itu. Mahasiswa Indonesia di Sudan berjumlah sekitar 650 orang.

13 Apr 2016

Tari Saman Ramaikan Pembukaan Musim Budaya ke-11 di Universitas Internasional Afrika



Khartoum,6Rajab 1437/13 April 2016 (MINA) – Universitas Internasional Afrika di Khartoum, ibukota Sudan tengah mengadakan acara tahunan Musim Budaya Ke-11, Selasa (12/4) waktu setempat, segaligus rangkaian dari milad  ke-60  berdirinya kampus tersebut.
Acara tersebut akan berlangsung selama hampir dua bulan yang terbagi di beberapa Perlombaan budaya baik  antar Fakultas, BEM, dan Komunitas lainnya di lingkungan kampus.
Universitas Internasional Afrika berdiri pada 1966 memiliki mayoritas mahasiswa asing yang tersebar di 19 fakultas dan enam institut, demikian laporan Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Sudan.
Pada acara pembukaan Selasa yang dipusatkan di Hall Conference Universitas Internasional Afrika, menampilkan budaya asli Indonesia yang dibawakan oleh para mahasiswa asal Palembang-Sumsel yang sedang menimba ilmu di Sudan.
Mereka membawakan tarian traditional “YA SAMAN” yang mana pada sebelumnya  pernah mewakili Indonesia dalam ajang Karnaval Budaya Internasional Ke-2 yang diadakan Korp Diplomatic di Khartoum beberapa hari yang lalu mewakili Promosi Budaya dan Pariwisata Indonesia oleh KBRI Khartoum.
Dalam Sambutan yang disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr. Ibrahim Khaidar yang juga sebelumnya pernah menjadi gubernur di salah satu provinsi di Sudan yaitu Wilayah Syimaliyah-Sudan, mengatakan bahwa dalam acara ini akan melibatkan seluruh mahasiswa yang ada di beberapa fakultas lingkungan Kampus IUA , baik Mahasiswa asli Sudan maupun asing yang  sampai saat ini berjumlah hampir 15 ribu mahasiswa/i terbagi dari 83 negara, termasuk Indonesia.
Pada acara ini juga ada beberapa Perlombaan penting di antaranya: 1. Tahfid Qur’an 2. Nasyid 3. Karikatur 5. Jurnalistik 6. Drama.7. Pidato dengan Bahasa Arab dan lain-lain.
Sebagai informasi mahasiswa Indonesia yang saat ini melanjutkan studi di Sudan lebih kurang  600 orang lebih yang dominan kebanyakan di Kampus Universitas Internasional Afrika dan beberapa kampus lainnya di Sudan yang kurang lebih hampir 10 Kampus lainnya yang dimasukin oleh mahasiswa Indonesia baik Program sarjana maupun Pascasarsarjana.(L/K06/R05)

Mi’raj islamic News Agency (MINA)

7 Apr 2016

Sudan Ingin Terus Kembangkan Hubungan dengan Uni Eropa

Khartoum, 28 Jumadil Akhir 1437/7 April 2016 (MINA) – Wakil Presiden Sudan Jenderal Bakri Hassan Saleh mengatakan, Pemerintah Sudan ingin terus mengembangkan hubungan dengan Uni Eropa.
Jenderal Saleh mengatakan, Sudan memiliki kemampuan politik yang kuat agar nantinya secara luas dan aktif bisa mengatasi masalah kemiskinan dan migrasi.
Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Khartoum melaporkan, pernyataan itu disampaikan ketika Wakil Presiden menerima delegasi dari Uni Eropa Bidang Kerjasama Internasional Nevin Lemeka di Istana Presiden Sudan, Rabu (6/4).
Koresponden MINA mengatakan, pihak Uni Eropa mengapreasiasi dan memberikan dukungan kepada Pemerintah Sudan atas kerjasamanya mengatasi masalah imigrasi yang selama ini telah di kerjakan, termasuk imigran dari Suriah dan negara-negara tetangga lainnya.
Sementara itu, Uni Eropa dan dunia internasional akan siap membantu Sudan untuk memulihkan kembali masalah-masalah eksternalnya, termasuk mengatasi dan mengangkat sanksi ekonomi Amerika Serikat yang sudah berjalan hampir 20 tahunan.
Pihak Uni Eropa juga mencatat, Sudan mempunyai peran yang sangat aktif dan penting di kawasan regional.
Wakil Presiden Sudan menegaskan bahwa negaranya perlu ada dukungan yang kuat untuk mencapai itu semua. (L/K06/P001)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA

4 Apr 2016

Sudan-Kuwait Sepakat Pembebasan Visa Diplomatik

Khartoum, 25 Jumadil Akhir 1437/4 April 2016 (MINA) – Menteri Luar Negeri Sudan Prof. Dr. Ibrahim Ghundor telah bertemu dengan Pangeran Kerajaan Kuwait Sabah Ahmad Al-Sabah, dalam rangka kunjungan kenegaraan ke Kuwait Ahad kemarin membahas bersama kerjasama pembebasan visa bagi pemegang visa diplomatik khusus.
Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Khartoum melaporkan, pada pertemuan tersebut selain pembahasan kerjasama pembebasan visa bagi pemengang Visa khusus diplomatik antar kedua negara juga pembahasan kerjasama lainnya yang saling menguntungkan diberbagai bidang.
Selain perjanjian pembebasan Visa, Kementrian Luar Negeri Kuwait juga menegaskan pengembangan kerjasama hubungan studi pengembangan bersama dan nota kesepahaman antara institusi diplomatik milik Pemerintah Kuwait, Saud Nasir As Shobah, yang bergerak di bidang studi dan pengembangan diplomatik dengan institusi diplomatik milik Pemerintah Sudan.
Hadir dalam acara penandatangan tersebut Wakil Menteri Luar Negeri Kuwait, Kholid Sulaiman Al-Jazarallah dan pada Senior yang ada di beberapa kementerian Kuwait serta Duta Besar Sudan untuk Kerajaan Kuwait , Dr. Muhyiddin Salam.(L/K06/R05)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Sudan dan India Jalin kerjasama Militer

Khartoum, 24 Jumadil Akhir 1437/3 April 2016 (MINA) – Menteri Pertahanan Sudan Jenderal Awad bin Yusuf telah melakukan  kunjungan resmi  ke beberapa negara sahabat di Asia selama sepekan, termasuk ke India dan Qatar.
Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Khartoum melaporkan, dari hasil kunjungan ke dua negara tersebut, Sudan menjalin kesepakatan dan pengembangan nota kesepahaman terutama dengan India dalam hal pengembangan militer di berbagai bidang yang komprehensif.
Menteri Pertahanan Sudan juga melakukan sejumlah pertemuan, termasuk dengan Menteri Pertahanan India dan sejumlah pejabat penting di Kementerian Pertahanan India. Selain itu juga Menteri Pertahanan Sudan diundang secara khusus oleh Pemerintah India untuk  menyaksikan Pameran Pertahahan dan Militer yang diadakan oleh Kementerian Pertahanan India di Nairobi beberapa hari yang lalu.
Kedua negara membahas cara-cara meningkatkan dan pengembangan hubungan di bidang militer antarkedua negara.
Hasil kesepakatan antara Sudan dan India di antaranya pengembangan nota kesepahaman yang ditandatangani antara kedua negara untuk protokol militer yang komprehensif antara Kementrian Pertahanan  kedua negara, termasuk pegembangan angkatan bersenjata antara kedua negara.
Selain melakukan kunjungan resmi ke India, Menteri Pertahanan Sudan juga menghadiri Pameran Pertahanan Produk Bimdex  yang diselenggarakan di Doha.
Dalam kunjungan itu juga menteri Pertahanan Sudan bersama delegasinya melakukan pertemuan dengan Direktur Industrialiasi Bidang Militer dan Kepala Staf Anggatan Laut Kementerian Pertahanan Qatar, serta menghadiri sejumlah acara penting.
Dr. Khalid bin Muhammad Al Atiya’,  Menteri Pertahanan Qatar sangat memuji kunjungan Jenderal Awad bin Yusuf dalam mengikuti berbagai kegiatan pameran militer yang diadakan oleh Qatar.
Pemerintah Qatar menyatakan akan terus mendukung di semua bidang kerjasama dengan Pemerintah Sudan yang selama ini telah terjalin cukup kuat.(L/ K06/P001)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
http://www.mirajnews.com/id/sudan-dan-india-jalin-kerjasama-militer/108962

Perusahaan Minyak Cina Tak Kurangi Sebagian Investasinya di Sudan

Khartoum, 25 Jumadil Akhir 1437/4 April 2016 (MINA) Sebuah Perusahaan Minyak Nasional Cina (CNPC) yang berpusat di Beijing, Republik Rakyat Tiongkok, Ahad kemarin, mengungkapkan akan berencana mengurangi investasi dan kapasitas produksi mereka di sejumlah negara-negara Africa dan Arab, kecuali untuk Sudan.
Keputusan perusahaan minyak Cina yang didirikan pada tahun 1988 Itu disebabkan adanya dampak dari menurunnya harga minyak global saat ini yang lebih rendah dan kapasitas pembiayaan produksi perusahaan yang cukup tinggi.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh delegasi CNPC yang dipimpin Liu Yu Jin, Direktur Bidang Perencanaan dan Keuangan CNPC, saat menemui Menteri Keuangan Sudan Dr. Badruddin Mahmud di Kantor Kementerian Keuangan Sudan di Khartoum.
Mahmud mengungkapkan bahwa Pemerintah Sudan selalu akan memperkuat kerjasama hubungan strategis dengan Pemerintah Cina di berbagai bidang termasuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan politik dari kedua negara demi terciptanya hubungan yang kuat serta pengembangan yang strategis dari keduanya.
Dia juga mengatakan kepada delegasi CNPC bahwa Pemerintah Sudan telah membuat komite tingkat tinggi yang secara langsung khusus di bawah Pengawasan Presiden Sudan Omar Hasan Ahmad Al-Bashir, di mana dalam komite tersebut beranggotakan beberapa kementerian terkait termasuk Kementerian Keuangan yang secara langsung mengontrol atas kerjasama hubungan kedua negara yang selama ini telah terjalin.
“Kami berjanji akan terus membantu mengatasi semua hambatan untuk proses investasi dan CNPC untuk beroperasi di Sudan,” kata Mahmud, demikian laporan Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Khartoum mengutip kantor berita nasional Sudan.
Dia juga menyerukan kepada CNPC untuk meningkatkan kapasitas Produksinya serta mencari tempat Blok-blok sumber minyak terbaru demi untuk menaikan Kapasitas Produksinya di Sudan yang saling menguntungkan antar kedua negara.
Sementara itu, Mahmud juga memuji atas keputusan CNPC atas pengecualian rencana akan memangkas produksi khususnya kepada di Afrika dan dunia Arab.
“Seperti di ketahui juga perusahaan CNPC telah beroperasi di sektor perminyakan khususnya di Sudan sejak tahun 1997. Ini menunjukkan bahwa Sudan merupakan pintu gerbang bagi perusahaan untuk negara-negara di Afrika,” ujarnya.
Sebagai Informasi tambahan bahwa para Investor yang ada di Sudan saat ini didominasi dari Cina, selain dari negara-negara teluk lainnya.
Sudan saat ini masih dalam proses transisi dari Sudan Selatan disebabkan tidak stabilnya keamanan, politik, budaya, dan lain-lain yang itu memicu rendahnya stabilitas ekonomi sudan. Saat ini Pemerintah Sudan masih terus berusaha untuk mengakhiri embargo ekonomi oleh Amerika Serikat dan dunia Internasional yang sudah hampir berjalan lebih dari 20 tahunan.(L/K06/R05)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

24 Mar 2016

KBRI Sudan Adakan Pelatihan Jurnalistik Bagi Mahasiswa

Khartoum, 15 Jumadil Akhir 1437/24 Maret 2016 (MINA) – Dalam rangka meningkatkan Promosi dan daya saing Indonesia di kancah Internasional, khususnya media massa yang ada di Sudan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Khartoum, Sudan, akan mengadakan Pelatihan jurnalistik bagi mahasiswa/i Indonesia yang sedang melakukan studi di berbagai perguruan tinggi di Sudan.
Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Sidiq Mustakim, melaporkan, Kamis (24/3), pelatihan jurnalistik KBRI Khartoum tersebut akan digelar selama dua hari pada pekan kedua April 2016 dengan menghadirkan para wartawan dan jurnalis dari Asiosiasi Media di Sudan.
KBRI Khartoum mengharapkan digelarnya Pelatihan jurnalistrik yang bekerja sama dengan wartawan dan para jurnalis dari sudan, agar para mahasiswa yang ada di Sudan dapat mengasah bakat dan kemampuan dalam hal tulis menulis dan dengan harapan juga nanti tulisannya akan dimuat di kantor berita atau koran harian Sudan.
Acara yang menggunakan Bahasa Arab dan Inggris itu akan dihadiri mahasiswa/i juga melibatkan para fungsionaris beberapa ormas dan organisasi perhimpunan mahasiswa Indonesia di Sudan, Antara lain Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Sudan, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan, Pusat Informasi dan Pelayanan (PIP) PKS.
“Di samping itu ada juga beberapa alumni. Sampai saat ini jumlah mahasiswa Indonesia di Sudan hampir 600 Orang yang tersebar di 10 Universitas Negeri di berbagai Program Studi di Sudan,” kata Sidiq.
Sebagai informasi tambahan dari pemantauan Koresponden MINA di Sudan, KBRI Khartoum yang dipimpin Duta Besar RI untuk Sudan dan Eritrea, Burhanuddin Badruzzaman, selain sering mengunjungi seluruh kegiatan mahasiswa ataupun kegiatan yang bersifat kemahasiswaan ataupun organiasasi lainnya.
Dia juga telah banyak memberikan dampak Positif bagi Indonesia terutama di Sudan yang di mana ikatan kedua negara ini sudah terjalin cukup lama, bahkan sebelum kedua negara ini merdeka sudah terjalin kerjasama yang cukup kuat dengan ditandainya salah satu ulama Sudan, Syaikh Ahmad Sukarti, berkunjung ke Indonesia.
Selain itu juga dalam hal promosi budaya, perdagangan, pertanian maupun promosi lainnya, KBRI Khartoum menghadiri acara-acara bertaraf Internasional maupun nasional dengan Pemerintah Sudan maupun dengan negara sahabat. (L/K06/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
http://www.mirajnews.com/id/kbri-khartoum-adakan-pelatihan-jurnalistik-bagi-mahasiswa/107515

18 Mar 2016

Sudan Tetapkan Orang Sudan Selatan sebagai Warga Asing

Khartoum, 9 Jumadil Akhir 1437/18 Maret 2016 (MINA) – Pemerintah Sudan telah menetapkan pada Kamis (17/3) siang bahwa warga negara Sudan Selatan yang berada di negara itu sebagai orang asing.
Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Khartoum melaporkan, Pemerintah Sudan akan mengambil tindakan hukum bagi siapa saja dari warga Sudan Selatan yang tidak membawa pasport dan visa ketika memasuki wilayah Sudan dalam sepekan setelah keputusan itu.
Presiden Omar Hassan Al-Bashir sebelumnya mengatakan, memungkinkan pengecualian dan dipertimbangkan bagi warga Sudan Selatan yang mengungsi dari peperangan untuk mencari tempat aman atau pengobatan.
Sementara itu Asisten Presiden Sudan, Ibrahim Mahmoud Hamid mengatakan, pemerintah akan menutup kembali perbatasan jika Sudan Selatan masih terus mendukung gerakan pemberotakan di Darfur, Kordofan Selatan dan Nil Biru.
Utusan Dewan Menteri Umar Muhammad Sholeh mengatakan kepada wartawan, Kamis, Dewan  Menteri sangat menekankan pentingnya stabilitas keamanan di perbatasan. (L/K06/P001)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

3 Mar 2016

Sudan Tampung 100 Ribu Penggungsi Suriah

Khartoum, 24 Jumadil Awwal 1437/3 Maret 2016 (MINA) – Sebuah Komite yang bertanggungjawab secara khusus menangani pengungsi Suriah di Sudan mengungkapkan, jumlah pengungsi Suriah yang sudah tercatat di Sudan sekitar 100 ribu pengungsi.
Menurut komite itu, jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat kondisi di Suriah yang hingga saat ini belum kondusif, media setempatAssohoroq edisi Selasa (2/3) melaporkan.
Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Sudan mengatakan, lembaga yang mengurus pengungsi Suriah memperlakukan para pengungsi dengan sangat baik saat melakukan pendataan pengungsi Suriah di Sudan baru-baru ini.
Perwakilan dari Komite untuk Pengungsi di Sudan, Adil Dafaallah, mengungkapkan, perlakuan baik terhadap para pengungsi adalah instruksi langsung dari Presiden Sudan, Omar Hasan Ahmad Al Bashir.
“Setiap warga negara Suriah yang memasuki wilayah Sudan, otomatis akan disamakan dengan warga masyarakat Sudan pada umumnya, bukan sebagai pengungsi. Ini sebagai bukti nyata bahwa para pengungsi diberlakukan sama sebagai seperti warga Sudan pada umumnya. Tanpa membedakan suku dan bangsa,” ujarrya.
Lebih lanjut, lembaga itu mengatakan, selain menampung dan memberikan pelayanan kepada pengungsi Suriah di Sudan, pihaknya juga akan memberikan berbagai jenis bantuan langsung.
“Usaha ini sebagai agenda untuk memperluas jaringan dengan mengakomodasi seluruh keperluan pengungsi Suriah selama berada di Sudan dengan memberikan bantuan pendidikan informal seperti memberikan beasiswa pendidikan di sekolah dasar, hingga perguruan tinggi yang sesuai dengan kurikulum yang ada di Sudan,” paparnya.
Media-media di Khartoum mengatakan, Khartoum akan menjadi tuan rumah bagi sekitar 80 ribu pengungsi Suriah yang melarikan diri dari perang yang saat ini terjadi di Suriah yang sudah memasuki empat tahun lamanya.
Sebagaimana diketahui, jumlah penduduk di Sudan pasca referendum dengan Sudan Selatan  pada pertengahan 2011 lalu, lebih kurang 38 juta jiwa, merujuk dari  Badan Statistik  Nasional Sudan tahun 2015 lalu, dari hampir 15 negara bagian atau provinsi di seluruh Sudan. (L/K06/P011–P2)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

29 Feb 2016

Jepang Beri Bantuan Bagi Pengungsi di Sudan

Khartoum, 20 Jumadil Awwal 1437/29 Februari 2016 (MINA) – Pemerintah Jepang menyalurkan bantuan kemanusian untuk para pengungsi yang berada di Sudan melalui Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) sebesar 4,5 juta Dolar AS.
Bantuan kemanusiaan tersebut telah disalurkan sejak diumumkan Pemerintah Jepang Kamis (25/2) lalu untuk mendukung misi kemanusian bagi pengungsi di beberapa titik yang terkena Konflik di sekitar enam wilayah perbatasan dengan Sudan Selatan.
Duta Besar Jepang untuk Sudan, Hideki ITO, menegaskan secara historis Sudan menjadi salah satu tuan rumah terbesar bagi pengungsi dunia. “Saya senang atas bantuan kami kepada para pengungsi di samping menyediakan mereka beberapa keperluan lainnya melalui dana bantuan resmi dari Pemerintah Jepang yang dikelola PBB dalam hal ini UNHCR,” ujarnya.
Sebagaimana laporan Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Sudan, bantuan itu sebagai wujud Pemerintah Jepang dalam membantu dan memberikan dukungan untuk Pemerintah Sudan dalam menghadapi para pengungsi akibat terjadinya konflik di berbagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Sudan.
Dia menegaskan keyakinannya bahwa Sudan sangat memainkan peran positif dalam memajukan stabilitas keamanan di kawasan tersebut.
Sementara itu, pihak UNHCR mendukung upaya Pemerintah Sudan untuk memberikan perlindungan dan bantuan kepada pengungsi yang selama ini sangat membutuhkan, terutama di daerah konflik berbatasan dengan Sudan Selatan.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah dan rakyat Jepang atas dukungan yang kuat terhadap pengungsi yang ada di Sudan,” kata Mohammad Adrar, perwakilan UNHCR untuk Sudan.
Kontribusi Pemerintah Jepang akan dialokasikan terutama untuk mendukung UNHCR melakukan misi kemanusiaannya dalam memberikan bantuan untuk pengungsi terutama di Khartoum, Sudan Timur, dan Darfur.
Bantuan tersebut juga menjamin keberlanjutan layanan dasar untuk mendukung sekitar 90 ribu pengungsi dan masyarakat setempat terutama di Sudan Timur. Termasuk juga mendukung keperluan dasar masyarakat, terutama bidang kesehatan gizi, saluran air bersih, pendidikan, dan lain-lain.
Selain itu, pihak UNHCR akan menyediakan penampungan darurat untuk para Pengungsi, demikian laporan Media Online Sudan Tribune kemarin malam.(L/K06/R05)
 Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

27 Feb 2016

Mahasiswa Indonesia Tewas Karena Tenggelam di Sungai Nil, Sudan

Khartoum, 19 Jumadil Awwal 1437/26 Februari 2016 (MINA) – Seorang mahasiswa asal Indonesia, Muhammad Naufal Syihab, Sabtu, meninggal dunia setelah tenggelam di pinggiran Sungai Nil di daerah Roy Mishri, Khartoum, Sudan,  dan mayatnya ditemukan satu jam kemudian.
Jenazah korban sudah dikuburkan di pemakaman umum tidak jauh dari Kampus International Universty of Africa (IUA), Ahad (28/2) pagi waktu setempat.
“Alhamdulillah, Ahad pagi waktu setempat, jenazah sudah disholatkan di Masjid Kampus Utama IUA dan langsung dimakamkan di pemakaman umum sekitar 5 km dari kampus,” lapor Sidik Mustaqim, Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Sudan.
Sidik mengatakan, proses pemakaman jenazah Naufal dihadiri oleh warga setempat, mahasiswa Indonesia, pihak saudara yaitu dua sepupunya yang tinggal di Sudan, pihak kampus IUA, dan pihak KBRI Khartoum, termasuk Dubes RI untuk Sudan dan Eritrea Drs. Burhanuddin Badruzzaman.
Sidik Mustaqim yang merupakan kakak kelas korban di International Universty of Africa, Sudan, menuturkan bahwa sebelum peristiwa itu terjadi pada Sabtu (27/2) sore waktu setempat, korban bermain bersama temannya di Sungai Nil di daerah Roy Mishri.
“Almarhum dan empat orang temannya sempat mandi dan berenang di pinggiran sungai Nil. Menurut informasi dari teman-temannya, almarhum tidak bisa berenang,” jelasnya.
Jasad korban ditemukan sekitar satu jam setelah kejadian oleh penduduk dan polisi sekitar bantaran Sungai Nil di radius lebih kurang 50 meter dari tempat kejadian.
“Kejadian tersebut kalau dari garis pantai sekitar 15 sampai 20 meter,” tambah Sidik yang juga berada di lokasi saat terjadi musibah itu.
Korban yang meninggal dalam usia 23 tahun tercatat sebagai mahasiswa semester III Program Islamic Studies berasal dari Lasem, Jawa Tengah, putra dari KH. Syihabuddin Ahmad dan masih cicit KH Ma’shum, salah satu ulama besar di provinsi itu.(L/K06/R05/P02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

10 Feb 2016

Mesir, Ethiopia, Sudan Diskusikan Efek Bendungan Nil

Khartoum, 3 Jumadil Awwal 1437/11 Februari 2016 (MINA) – Pejabat Mesir, Ethiopia dan Sudan bertemu di Khartoum pada Selasa (9/2) waktu setempat membahas proposal teknis untuk mempelajari dampak dari konstruksi bendungan raksasa Sungai Nil di Ethiopia, Grand Ethiopian Renaissance Dam.
Delegasi ketiga negara bertemu di ibukota Sudan, Khartoum, masing-masing diwakili oleh sebuah komite teknis, sepakat menyerahkan proposal studi kelayakan kepada dua perusahaan Perancis, All Africa melaporkan.
Usulan tentang studi potensi dampak bendungan telah dikirim bulan lalu ke tiga negara untuk ditinjau menjelang putaran perundingan.
Mesir, Ethiopia dan Sudan telah beberapa tahun terhenti dalam negosiasi atas bendungan di Ethiopia dan Mesir, yang dikhawatirkan akan memiliki efek merugikan pada pengguna Sungai Nil.
Sungai Nil merupakan salah satu sungai terpanjang di dunia, mengalir sejauh 6.650 km dan melewati sembilan negara, yaitu: Ethiopia, Mesir, Sudan, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda dan Burundi.
Sumber Sudan mengatakan bahwa tiga komite menyetujui anggaran keuangan untuk perusahaan dibagi sama rata, menurut sebuah pernyataan di situs Kementerian Luar Negeri Ethiopia.
Artelia Group, yang menawarkan manajemen proyek konsultasi dan jasa, terutama air dan lingkungan, ditunjuk untuk melaksanakan 70 persen dari studi. Sisa pekerjaan lainnya akan dilakukan oleh BRL Group yang menawarkan jasa konsultasi khusus air dan lingkungan.
Tiga negara telah sepakat bahwa kontrak dengan dua perusahaan akan ditandatangani paling lambat pertengahan Februari.
Bulan lalu, Menteri Air dan Irigasi Mesir Hossam Moghazi sudah mulai melakukan studi untuk menentukan dampak dari bendungan air yang mencapai Mesir dan Sudan, serta efek pada hasil listrik dari bendungan yang sudah ada. Mesir memiliki dua bendungan besar, yaitu Aswan High Dam dan Sudan Merowe Dam, proyek-proyek listrik tenaga air.
Studi juga mengidentifikasi efek dari pengaruh lingkungan, ekonomi dan sosial dari bendungan di Mesir dan Sudan, Menteri Moghazi menambahkan.
Mesir, Ethiopia, dan Sudan telah mengadakan lebih dari 10 putaran perundingan selama dua tahun terakhir, guna menjamin bahwa bendungan hidroelektrik tidak akan mengurangi kapasitas Sungai Nil.
Pembicaraan tripartit di Khartoum pada Desember lalu menyepakati “Khartoum Dokumen” yang menetapkan mekanisme untuk menyelesaikan masalah berkaitan dengan bendungan Sungai Nil. Dokumen menetapkan kerangka waktu delapan bulan sampai satu tahun untuk menyelesaikan studi teknis.
Selama beberapa dekade, Mesir telah menerima 55 miliar meter kubik air sungai Nil setiap tahun, sebagai pengguna terbesar.
Mesir sangat bergantung pada sungai Nil sebagai sumber utama air dalam pertanian. Namun Ethiopia juga merasa berhak menggunakan air sungai itu untuk pembangunan, dengan menciptakan listrik menggunakan bendungan. Kedua negara telah menegaskan beberapa kali bahwa mereka tidak akan merugikan kepentingan masing-masing negara. (T/P4/R05)
 Mi’raj Islamci News Agency (MINA)

Festival Budaya Asian Cultural Festival In Sudan

EL-GENEINA (Pos Kota) – Tepuk tangan meriah dari kurang lebih 2000 orang yang hadir dalam pergelaran acara festival budaya, sesaat usai penampilan personel TNI dari Satgas Batalyon Komposit TNI Konga XXXV-A/Unamid (United Nations African Union Mission in Darfur) yang mempertunjukan tarian tradisional Indonesia, yaitu Tari Lenggang Mainang yang dikolaborasikan dengan Tari Saman, pada Asian Cultural Festival In Sudan, di Hotel Chorintia, Khartoum, Sudan Afrika.
Kegiatan ini digelar oleh Pemerintah Sudan bertujuan guna memperkenalkan kultur negara-negara khususnya negara dari benua Asia, kepada masyarakat Sudan sendiri. Selain menampilkan tarian tradisional dari setiap negara, diperkenalkan juga makanan tradisional negara partisipan Asian Cultural Festival In Sudan termasuk Indonesia. Festival tahunan yang sudah dua kali diselenggarakan, pada tahun ini diikuti oleh 9 negara yaitu Indonesia, China, India, Iran, Jepang, Korea, Malaysia, Pakistan Serta Rusia.
Ditempat terpisah, Komandan Satgas Konga XXXV-A/Unamid Letkol Inf M. Herry Subagyo, seusai kegiatan tersebut mengatakan, selain peran kita sebagai peacekeeper pada misi perdamaian di Darfur Sudan, kita juga merupakan Duta Bangsa yang memperkenalkan Indonesia dimata Dunia. “Sebuah kesempatan, dan kehormatan bagi Satgas Batalyon Komposit TNI Konga XXXV-A/Unamid dapat memperkenalkan kebudayaan Indonesia diluar negeri” tandasnya.
Tim kesenian budaya dari Kontingen Indonesia yang tampil dalam Asian Cultural Festival In Sudan terdiri dari 8 orang personel dipimpin oleh Kapten Inf Reza Syahputra, dan sebagai ketua rombongan sekaligus sebagai supervisor tim budaya dari Satgas Konga XXXV-A/Unamid yaitu Mayor Marinir Ahmad Yani, yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Seksi Personel Satgas Konga XXXV-A/Unamid.
“Performa tim kesenian kita sangat membanggakan, terlihat dari apresiasi penonton saat tarian budaya Indonesia ditampilkan, maupun seusai penampilan. Kami bangga sekali dapat menunjukan wajah Indonesia yang kaya akan budaya di hadapan orang-rang dari berbagai negara”, ungkap Mayor Marinir Ahmad Yani.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut, pejabat Kementerian Pariwisata dan Kementerian Luar Negeri Negara Sudan, Duta Besar RI Untuk Sudan Bapak Burhanuddin Badruzzaman, serta para Duta Besar Negara-negara yang turut berpartisipasi pada acara Asian Cultural Festival In Sudan.
Perwira Penerangan Konga XXXV-A/Unamid
Lettu Laut (KH) Eldhira Respati, S.Sos.

8 Feb 2016

Sudan Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional Persatuan Wanita Muslim


Khartoum, 1 Jumadil Awwal  1437/9 Februari 2016 (MINA) – Sudan menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Persatuan Wanita Muslim, yang diselengarakan selama dua hari dari 8 hingga 9 Februari 2016 bertempat di Friendship Hall, Khartoum.
Dalam sambutannya pada pembukaan konferensi, Selasa,  Sekretaris Jendral  Persatuan  Islam Wanita Muslim Afaf Mohammad mengatakan, konferensi ini bertujuan mengembangkan peranan wanita muslim untuk meningkatkan kapasitasnya agar dapat bersaing dalam isu-isu kontemporer.
Afaf mengatakan, selain itu juga untuk memperkuat posisi perempuan yang saling berpartipasi dalam pembangunan manusia khususnya di bidang wanita.
“Terutama dalam menghadapi tantangan globalisasi saat ini, baik  di bidang perdamaian, mau pun pembangunan lainya,” kata Afaf di Friendship Hall, Khartoum, Selasa (9/2).
Berdasaran pantauan koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA)  di Sudan, sekitar 26 Negara Muslim ikut menghadiri Konferensi Internasional Persatuan Wanita Muslim tersebut.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu mengangkat tema tentang “Isu-isu Kontemporer dan Peradaban  Wanita Muslim”. Hadir lebih dari 76 para Ahli di bidang Perempuan yang mewakili Anggota Dewan Pembina dari negara-negara Muslim, termasuk Ibu Prof. Dr. Tuty Alawiyah, MA Dewan Pembina MAAI (Majelis Ilmuan Muslimah Internasional) sebagai delegasi dari Indonesia serta Ketua Umumnya Ibu Prof. Dr. Amany Lubis, MA.
Hadir juga beberapa duta besar negara sahabat dan diplomat, di antaranya kehadiran Duta Besar Arab Saudi untuk Sudan, Dr. Faisal bin Hamid Mualla. Serta para Alim Ulama’ Sudan.
Awal mula Organiasasi Cendikiawan Perempuan Muslim yang ini didirikan oleh The Internasional Muslim Women Union (IMWU), bertempat di Khartoum, Republik Negara Sudan pada 20 November 1997. IMWU sendiri adalah lembaga non pemerintah yang memiliki sifat konsultatif dengan Dewan Ekonomi Sosial PBB (ECOSOC).
Sedangkan untuk Perwakilan  cabang  di Indonesia pertama kali didirikan oleh Prof. Dr. Nabilah Lubis, yang juga seorang pendiri MAAI Internasional mengatakan bahwa MAAI cabang Indonesia berdiri pada April tahun 2000 saat kongres IMWU ke-2 di Beirut. Di kongres IMWU ini, kepengurusan MAAI pusat dipimpin oleh Maroko setelah beberapa kali pergantian penggurus.(L/K06/P010/R05)


Miraj Islamic News Agency (MINA)

Sudan Gempar Warganya Bunuh Tentara Israel

Khartoum, 29 Rabi’ul Akhir 1437/8 Februari 2016 (MINA) – Pemerintah dan rakyat Sudan digemparkan oleh pemberitaan seorang warganya yang dilaporkan membunuh seorang tentara Israel di Palestina.
Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Khartoum memberitakan, media-media nasional di Sudan melaporkan, tentara Israel itu tewas setelah ditikam pada Ahad (7/2) di Askhelon, beberapa media dan polisi Israel telah mengumumkan hal itu.
Pelaku yang tidak disebutkan namanya itu statusnya sedang menjadi tamu di Palestina.
Kejadian itu bermula ketika serorang pria Sudan di dalam bus, tiba-tiba menyerang seorang tentara Israel dengan menikamnya, lalu langsung melarikan diri. Dalam pengejaran itu, polisi Isreal langsung menembak mati pelaku.
Sejauh ini, juru bicara polisi Israel tidak mengungkapkan rincian tentang apa yang pelaku lakukan di Palestina.
Beredar juga beberapa video tentang kejadian itu yang menyebutkan untuk pertama kalinya seorang non-Palestina “syahid” dalam Intifadha oleh kejahatan Israel. (L/K06/P001)


Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

7 Feb 2016

Sudan Gempar Warganya Bunuh Tentara Israel

Khartoum, 29 Rabi’ul Akhir 1437/8 Februari 2016 (MINA) – Pemerintah dan rakyat Sudan digemparkan oleh pemberitaan seorang warganya yang dilaporkan membunuh seorang tentara Israel di Palestina.
Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Khartoum memberitakan, media-media nasional di Sudan melaporkan, tentara Israel itu tewas setelah ditikam pada Ahad (7/2) di Askhelon, beberapa media dan polisi Israel telah mengumumkan hal itu.
Pelaku yang tidak disebutkan namanya itu statusnya sedang menjadi tamu di Palestina.
Kejadian itu bermula ketika serorang pria Sudan di dalam bus, tiba-tiba menyerang seorang tentara Israel dengan menikamnya, lalu langsung melarikan diri. Dalam pengejaran itu, polisi Isreal langsung menembak mati pelaku.
Sejauh ini, juru bicara polisi Israel tidak mengungkapkan rincian tentang apa yang pelaku lakukan di Palestina.
Beredar juga beberapa video tentang kejadian itu yang menyebutkan untuk pertama kalinya seorang non-Palestina “syahid” dalam Intifadha oleh kejahatan Israel. (L/K06/P001)



Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Alumni Sudan, dukung peningkatan hubungan Indonesia-Sudan

Jakarta (ANTARA News) - Alumni lulusan universitas-universitas di Sudan berkumpul di Kedutaan Besar Republik Sudan di Jakarta pada Minggu dan menyatakan tekad mereka membantu meningkatkan hubungan antara Indonesia dan Sudan kepada Duta Besar Sudan untuk Indonesia Abd Alrahim Alsiddig.

Dubes Abd Alrahim mengatakan kepada Antara bahwa Sudan memberikan 200 beasiswa tahun lalu kepada mahasiswa Indonesia untuk belajar di jenjang pendidikan S2 dan S3.

"Kami telah lama menanti dan menyambut baik penyelenggaraan pertemuan ini," kata Dr Tulus Musthofa Lc MA, salah seorang tokoh alumni Sudan.

Menurut Tulus, cukup banyak mahasiswa dari berbagai provinsi di Indonesia belajar di negara Afrika tersebut dan jumlahnya dari tahun ke tahun meningkat.

"Perhatian Sudan pada soal pendidikan luar biasa dengan membebaskan siswa dan mahasiswa bebas dari biaya pendidikan," katanya.

Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta itu memuji kebijakan Sudan yang memberikan beasiswa terutama kepada mahasiswa Indonesia. 

"Kami juga mengusahakan penambahan beasiswa kepada mahasiswa Sudan untuk belajar di Indonesia dan meningkatkan jumlahnya pada tahun-tahun mendatang," kata Tulus.

Sejauh ini Indonesia memberikan sekitar 20 beasiswa kepada mahasiswa Sudan untuk belajar di jenjang S2 dan S3.

Mahasiswa Indonesia antara lain belajar bahasa Arab, tafsir Alquran dan syariah di universitas-universitas terkenal di Sudan.

Lebih 80 orang alumni yang datang dari berbagai daerah antara lain di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku Utara dan Sulawesi merumuskan apa yang mereka dapat berikan di bidang sosial-budaya, ekonomi dan politik, bukan untuk apa yang mereka peroleh kelak, dengan membentuk sebuah tim.

"Kami akan mempertimbangkan proposal yang akan para alumni sampaikan dan berharap jadi peta jalan untuk masa depan hubungan dan kerja sama dua negara bersahabat ini," kata Dubes Abd Alrahim.

Diharapkan, proposal dari asosiasi persahabatan Indonesia-Sudan tersebut komprehensif, inklusif dan kerja sama berkelanjutan.

"Sangat penting bagi kami untuk mendengarkan dan merima masukan-masukan dari para alumni sebagai upaya untuk mengaktifkan hubungan. Pertemuan ini merupakan alat untuk mengaktifkan," kata dia.

Lebih jauh Dubes Sudan itu mengatakan bahwa penambahan beasiswa merupakan wujud untuk meningkatkan hubungan bilateral antara Sudan dan Indonesia yang telah lama terjadlin.
Editor: Ruslan Burhani

5 Feb 2016

Presiden Omar Bashir: Transportasi Sungai Dengan Sudan Selatan Kembali Dibuka

Khartoum, 27 Rabi’ul Akhir 1437/5 Februari 2016 – Presiden Sudan, Omar Hasan Ahmad Al Albashir, mengumumkan akan membuka kembali jalur Transportasi perdagangan lintas Sungai antara Sudan dan Sudan selatan melalui pelayaran Antara Provinsi Wilayah Nil Abyad (Kosti) dan Juba ( Ibu kota Sudan selatan) demi menjaga stabilitas keamanan, politik, dan ekonomi antar kedua Negara.
Hal tersebut disampaikan Omar Hasan Ahmad Al Abashir, dalam pidato di hadapan staf pemerintah, ketika melakukan lawatan kerja ke Provinsi Nil Abyad, Kamis (4/2).
“Kami tidak akan menghukum masyarakat Sudan selatan, karena kami ingin kedua Negara ini hidup damai sesuai kesepakatan dan undang-undang yang berlaku,” ujar Omar, demikian Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) melaporkan dari Sudan.
Sementara itu, jalur transportasi perdagangan dan barang jalur Sungai diketahui sudah ditutup pada Mei 2012 antara Sudan Utara dan Selatan.
Hal itu disebabkan karena adanya ketegangan di kedua pihak, diantaranya penyitaan kapal barang oleh Sudan Selatan, serta kedua negara saling menuduh masing-masing pihak mendukung pemberontakan antar satu dengan yang lain.
Menurut Badan Statistik PBB baru-baru ini, di perkirakan 198.000 orang Sudan Selatan mengungsi ke Sudan, setelah pecahnya konflik di Selatan pada pertengahan Desember 2013, dan kebanyakan mereka bermukim dan melarikan diri sebagian ke Wilayah Nil Putih dan Ibu Kota Sudan (Khartoum).
Kunjungan kerja Presiden Sudan ke Wilayah Nil Putih dalam Rangka membuka sejumlah Proyek pembangunan perkelanjutan, seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air, yang dikabarkan terbesar di Sudan.
Presiden juga mengatakan, pembentukan Proyek-proyek terbaru ini di wilayah Nil Putih adalah hadiah terbesar dan ini merupakan langkahnya sebagai pemerintah.
Dia menambahkan, hasil dari kontrak kerjasama dengan Pemerintah India untuk memperluas stasiun pembangkit listrik yang ada di Sudan lebih kuranng 700 Megawatt dengan rincian tahap pertama 500 Megawatt dan sisanya tahap kedua diperkirakan menghasilkan lebih kurang 250 Megawatt.
Selain itu, Presiden Sudan berjanji akan menjadikan Wilayah Nil Putih sebagai Penghasil dan Produsen Minyak Negara ke depannya, serta Pembuatan Proyek Bandara Internasional untuk Arus Transportasi Udara antara ibu kota Khartoum, baik barang atau jasa penumpang lainnya.
Presiden Sudan berjanji kepada masyarakat Provinsi Nil Abyad, akan menyediakan air minum bersih untuk warga di Desa-desa yang selama ini belum terjangkau.
Kunjungan Presiden Sudan ke Sungai Nil Putih bersama staf pemerintahan, untuk mendengar dan melihat permasalahan yang ada di sekitar Wilayah serta mengawal proyek-proyek kedepan demi tercapainya semua Program- program yang baik dan berguna bagi seluruh Masyarakat. (L/P008/K06/P4)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)